Topik mengenai jurusan-jurusan (atau program studi) di bidang ilmu komputasi seperti Teknik Informatika, Ilmu Komputer, Sistem Komputer, Teknik Komputer, Sistem Informasi, dan sejenisnya sering dibahas di milis Himakom UGM. Yang baru-baru ini hangat dibicarakan di sana adalah mengenai berdirinya program studi Teknologi Informasi di Jurusan Elektro Fakultas Teknik UGM. Salah satu hal yang dipermasalahkan adalah kekhawatiran bahwa pendirian program studi tersebut akan membuat para calon mahasiswa semakin bingung dalam memilih jurusan di bidang ilmu komputasi. Bagaimana tidak? Terdapat banyak nama jurusan di bidang ilmu komputasi (telah saya sebutkan sebelumnya) sehingga para calon mahasiswa bertanya-tanya: “Apa bedanya?”.

Berdasarkan apa yang saya baca di tulisan “ustadz ilmu komputer”, Romi Satria Wahono (RSW), jurusan-jurusan di bidang ilmu komputasi di Indonesia mengacu pada IEEE Computing Curricula 2005. Namun, menurut RSW, kurikulum yang disusun oleh APTIKOM tidak secara konsisten mengacu pada IEEE Computing Curricula 2005. Cabang-cabang ilmu komputasi yang ada dalam IEEE Computing Curricula 2005 adalah Computer Engineering (CE), Information System (IS), Computer Science (CS), Information Technology (IT), dan Software Engineering (SE). Berikut kutipan dari tulisan RSW mengenai ketidak-konsistenan dalam pengacuan IEEE Computing Curricula 2005 oleh APTIKOM:

…Tidak konsisten karena Information System (Sistem Informasi) dan Computer Engineering (Teknik/Sistem Komputer) saja yang direkomendasikan jadi jurusan atau prodi. Computer Science (Ilmu Komputer), Information Technology (Teknologi Informasi) dan Software Engineering (Rekayasa Perangkat Lunak) disuruh tumplek beg di satu wadah namanya Teknik Informatika. (Romi Satria Wahono, 2009)

Tulisan RSW tersebut memberikan pencerahan kepada saya, dalam kasus ketika dulu masih kuliah (halah, padahal wisudanya baru November kemarin :-D ) di Ilmu Komputer UGM, saya merasa materi ilmu komputer sangat luas :-D . Terang saja, tiga bidang dijadikan satu :-D .

Kembali ke pokok bahasan kita, kebingungan para calon mahasiswa selain karena adanya 5 cabang (3 yang diadaptasikan di Indonesia) ilmu komputasi, juga diakibatkan karena perbedaan nama jurusan padahal sebenarnya merujuk pada hal yang sama. Yang paling banyak ditanyakan adalah mengenai ilmu komputer dan teknik informatika. Dulu ketika saya melakukan presentasi mengenai program studi (prodi) ilmu komputer di SMA saya, saya menjelaskan kedua istilah tersebut. Berdasarkan informasi dari Bapak Retantyo Wardoyo dan juga dari beberapa sumber lain di Internet, saya jelaskan bahwa kedua istilah tersebut sebenarnya merujuk pada hal yang sama. Perbedaan keduanya hanyalah asal istilahnya: istilah “computer science” berasal dari Amerika Serikat (di Inggris disebut dengan “computing science“), sedangkan istilah informatika berasal dari bahasa Prancis, “informatique” (di Jerman disebut dengan istilah “informatik“). Belakangan saya menemukan dokumen Kurikulum Inti Informatika dan Komputer APTIKOM yang mengkonfirmasikan bahwa istilah Teknik Informatika dan Ilmu Komputer dapat dipertukarkan. Dalam hasil adopsi APTIKOM dari IEEE Computing Curricula 2005, kedua istilah tersebut merujuk pada CS, IT, dan SE.

Sebenarnya Depdiknas telah mengatur masalah standarisasi penamaan ini dalam SK Dirjen DIKTI No. 163/KEP/DIKTI/2007 dan lampiran pertamanya. Namun, tentu saja diperlukan waktu untuk perubahan nama dan sosialisasinya. Dalam SK tersebut diputuskan bahwa Ilmu Komputer digunakan untuk jenjang S-3 sedangkan Teknik Informatika digunakan untuk jenjang D-III sampai S-1.

“Teori” dan Keadaan di Lapangan

Penjelasan secara singkat mengenai kelima cabang ilmu komputasi pada Computing Curricula 2005 dapat dibaca di tulisan RSW yang lain (itulah mengapa beliau saya sebut “ustadz”, banyak “kitab” beliau yang saya baca dan rujuk :-D ). Pembahasan RSW tidak terlalu detail, namun terdapat ilustrasi grafik yang bisa mempermudah pembaca dalam memahaminya. Salah satu gambar milik RSW saya copas di sini :-D :

IEEE Computing Curricula 2005

Namun tentu saja, pelaksanaan di lapangan tidak seperti teorinya. Pelaksanaan di lapangan bergantung pada masing-masing perguruan tinggi. Di UGM sendiri terdapat prodi Ilmu Komputer dan prodi Teknologi Informasi, yang berdasarkan uraian saya sebelumnya nama keduanya merujuk pada bidang yang sama. Perbedaan mendasar antara kedua prodi tersebut mungkin hanya secara organisasi, prodi Ilmu Komputer berada di bawah Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam sedangkan prodi Teknologi Informasi berada di bawah Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik. Di Universitas Indonesia keadaannya lebih baik, Ilmu Komputer merupakan fakultas sendiri. Saya kurang tahu mengenai keadaan di perguruan tinggi yang lain. Perkembangan di bidang ilmu komputasi cukup pesat (setidaknya di bidang aplikasinya), sehingga bisa dimaklumi bahwa setiap perguruan tinggi memiliki kreativitas sendiri dalam penerapan kurikulumnya.

Meskipun telah dibagi-bagi, lulusan cabang-cabang ilmu komputasi di Indonesia masih dapat berebut posisi di lapangan kerja. Bahkan tidak hanya sesama jurusan ilmu komputasi saja, lulusan jurusan yang lain pun juga dapat berkarir di bidang teknologi informasi. Cukup banyak programmer, software engineer, dan system/ network engineer yang merupakan lulusan Teknik Industri, Teknik Kimia, bahkan Pertanian. Hal ini disebabkan karena teknologi informasi merupakan bidang yang relatif mudah untuk dipelajari secara otodidak, setidaknya pada aspek praktisnya. E-book, dokumentasi, tutorial, perangkat lunak, dan materi lainnya dalam bidang ilmu komputasi sangat banyak tersedia di Internet.

Lalu, Pilih Jurusan yang Mana?

Anda disarankan untuk melihat terlebih dahulu kurikulum dan silabus mata kuliah yang dimiliki oleh jurusan pada perguruan tinggi yang ingin Anda masuki, tidak hanya melihat namanya saja. Hal ini karena masalah penamaan jurusan masih dalam proses standarisasi. RSW menjelaskan bahwa pemilihan jurusan di bidang ilmu komputasi yang tepat untuk Anda bergantung pada “minat, keinginan, dan potensi” Anda sendiri. RSW juga mengingatkan bahwa bagi Anda yang ingin mendalami desain grafis dan animasi jangan sampai memilih salah satu dari jurusan-jurusan pada Computing Curricula 2005 di atas, karena memang tidak termasuk di dalamnya. Lebih tepat jika Anda memilih jurusan desain komunikasi visual (DKV) yang biasanya berada di bawah fakultas seni rupa.

Saya sendiri ingin menambahkan, berdasarkan pengalaman saya kuliah, untuk juga melihat kultur dari jurusan yang ingin Anda masuki (tiap tempat bisa berbeda meskipun jurusannya sama). Kultur di sini meliputi proses perkuliahan (bagaimana kegiatan belajar-mengajar di lapangan), kegiatan dan organisasi mahasiswa, dan aktivitas riset. Hal ini bisa Anda tanyakan pada orang-orang yang pernah atau sedang kuliah di jurusan tersebut. Masalah kultur cukup penting karena ilmu tidak hanya didapat dari kuliah saja, namun juga dari teman-teman kuliah (entah yang satu angkatan, kakak kelas, bahkan adik kelas), organisasi mahasiswa, dan juga kegiatan belajar dan riset secara mandiri. Saya cukup bersyukur bahwa selama kuliah mendapatkan banyak pengetahuan dari teman-teman, terutama dari senior-senior saya di OmahTI.

Jangan pernah merasa puas dengan materi yang didapatkan dari kuliah. Berdasarkan pengalaman saya, kebanyakan (tidak semuanya sih) materi kuliah yang diajarkan terlalu teoritis (mungkin karena S-1), aspek praktisnya kurang. Hal tersebut membuat saya banyak belajar sendiri dari bahan-bahan yang tersedia di Internet. Jangan sampai Anda kalah dengan mahasiswa nonkomputasi yang belajar secara otodidak. Terlebih lagi, perkembangan ilmu komputasi pada segi aplikasinya cukup pesat. Itulah manfaat dari belajar sendiri dan bergabung dengan komunitas yang ada: pengetahuan Anda bisa lebih update.

Saya sendiri ketika kuliah begabung dengan organisasi riset mahasiswa OmahTI dan juga organisasi jurnalistik HimakoMedia. Banyak pengetahuan, pengalaman, soft-skill, serta kenalan yang saya dapatkan selama aktif di dua organisasi tersebut. Selain itu saya juga sempat bekerja sebagai programmer selama kurang lebih satu tahun di PPTIK UGM. Seperti kata RSW, belajar coding dan programming tidak cukup hanya dari kuliah, namun perlu juga untuk terjun langsung ke dunia kerja. Saya telah merasakan sendiri kebenaran dari kata-kata RSW tersebut (halah, kaya iklan obat ajah :-D ). Kultur Ilmu Komputer UGM yang santai memungkinkan saya untuk berorganisasi dan bekerja sementara kuliah tetap lancar (kalau indikatornya adalah predikat kelulusan yang cum laude, hihihi..) :-D . Itulah pentingnya kultur dalam perkuliahan :-D .

No related posts.